Urplan_Lupie's Blog

EVALUASI KEBIJAKAN dan RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN di KAWASAN PERKOTAAN tahun 2007-2011

Posted on: June 5, 2010

Kebijakan dan Rencana Strategi Pembangunan Rumah Susun di kawasan perkotaan ini ditetapkan melalui Kebijakan Menteri Perumahan Rakyat pada tahun 2007-2011 yang bertujuan untuk memberikan arah kebijakan, strategis dan rencana tindak pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan, menciptakan keterpaduan dan keserasian gerak para pemangku kepentingan dalam pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan, serta memberikan indikator kinerja pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan.

Pada dasarnya kebijakan percepatan pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan ini dilatarbelakangi oleh ketersediaan lahan perkotaan yang sangat terbatas mengakibatkan semakin langka dan mahalnya lahan perkotaan. Hal ini menyebabkan pembangunan perumahan baru layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah cenderung menjauh dari tempat kerja, sehingga dampak lain yang ditimbulkan yaitu munculnya permukiman illegal dan kumuh pada pusat kota, permasalahan mobilitas manusia dan barang dalam hal ini menimbulkan kemacetan lalu lintas, penurunan produktifitas kerja, serta penurunan kondisi sosial dan kualitas lingkungan. Oleh karena itu untuk memanfaatkan keterbatasan lahan perkotaan, maka dalam memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat penghasilan menengah kebawah direncanakan pembangunan rumah susun sederhana di pusat-pusat kota, dengan intensitas bangunan tinggi diharapkan dapat mendorong pemanfaatan lahan dan penyediaan prasarana, sarana dan utilitas yang efektif dan efisien.

Kebijakan pembangunan rumah susun sederhana sebenarnya telah ditetapkan sejak tahun 1985 dalam Undang-undang no.16 tahun 1985 tentang Rumah Susun. Beberapa tahun yang lalu pun telah dicetuskan program pengembangan sejuta rusun (GNPSR). Namun semenjak Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah (GNPSR) dicanangkan pada tahun 2003, pencapaian pasokan Rumah Susun bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah masih berjalan lambat. Untuk itu diperlukan upaya percepatan pembangunan Rusun, baik milik maupun sewa, yang tidak jauh dari pusat aktivitas masyarakat, khusunya di kawasan perkotaan. Oleh karena itu kebijakan yang diterapkan saat ini lebih bertujuan untuk mendorong percepatan pembangunan rumah susun di kawasan perkeotaan.

Jika melihat kondisi saat ini pembangunan rumah susun sederhana bagi masyarakat penghasilan menengah-bawah mengalami beberapa kendala yang terdiri dari :

  1. Harga tanah yang mahal di pusat kota menyebabkan pembangunan rumah susun sederhana diarahkan pada kawasan pinggiran kota sehingga beban lingkungan dan transportasi makin besar.
  2. Terdapat beberapa rumah susun sederhana yang tidak tepat sasaran bagi masyarakat penghasilan rendah, misalnya rumah susun sederhana di Jakarta yang disewa/dimiliki masyarakat penghasilan menengah-keatas.
  3. Masih rendahnya minat masyarakat untuk tinggal di rumah rusun (masalah budaya masyarakat Indonesia), masyarakat cenderung memilih tinggal di rumah horizontal dengan tipe sederhana daripada tinggal di rumah vertikal.
  4. Pengembang lebih memilih membangun rumah susun dalam bentuk apartemen karena menurut pengembang persyaratan dalam membangun rumah susun tidak ada bedanya dengan membangun rumah susun komersial sehingga membangun apartemen dinilai lebih menguntungkan.

Kebijakan percepatan pembangunan rumah susun lebih mengutamakan ketercapaian target pembangunan berupa 1000 unit menara rumah susun dengan pembangunan selama 5 tahun (tahun 2007-2011). Program pembangunan 1.000 tower di kawasan perkotaan diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Mohammad Yusuf Asy’ari yang didefinisikan melalui Keputusan Menteri adalah mereka yang berpenghasilan Rp 4,5 juta ke bawah. Sasaran kita agar masyarakat menengah ini -kalau saya suka menyebutnya sebagai profesional muda- bermukim tidak jauh dari tempat kerjanya.

Terdapat 10 kota besar yang dianggap perlu segera membangun rumah susun. Ke-10 kota itu Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, Bantul), Semarang dan sekitarnya, Surabaya dan sekitarnya, Makassar dan sekitarnya, Banjarmasin dan sekitarnya, Medan dan sekitarnya, Batam dan sekitarnya, Palembang dan sekitarnya. Tapi, itu bukan berarti di daerah lain tidak diperhatikan. Dari hasil inventarisasi diperoleh gambaran bahwa pembangunan yang terbesar adalah di Jabodetabek. Perbandingannya dengan kota-kota lain, 50 persen atau 500 tower di Jabodetabek, 30 persen di Pulau Jawa selain Jabodetabek, dan 70 persen sisanya di luar Pulau Jawa. Diharapkan program ini tuntas pada 2011.

Perkembangan pembangunan rumah sususn pada tahun 2007 telah tercapai 78 tower rumah susun yang tersebar di seluruh Indonesia, sedangkan pada tahun 2008 target tower rumah susun mencapai 88 unit sehingga total rusun yang terbangun sampai tahun 2008 adalah 166 unit rusun di seluruh Indonesia atau sekitar 19 % dari target 1000 tower di seluruh Indonesia.

Gambar 1. Rencana Pembangunan Rumah Susun Dikawasan Perkotaan Tahun 2007-2011

Saran penulis, kebijakan yang telah berjalan selama 4 tahun ini perlu dievaluasi tingkat keefektifannya terutama dari segi sosial budaya masyarakat, sehingga nantinya kebijakan pemerintah dapat dikembangkan lebih pada faktor sosial budaya masyarakat dimana faktor ini memegang peranan penting bagi pengembangan rumah susun di kawasan perkotaan. Sosialisasi terhadap masyarakat penghasilan menengah-kebawah sangat diperlukan agar mind-set tinggal di rumah susun dapat diterima oleh kalangan masyarakat penghasilan menengah-kebawah. Selain itu, sosialisasi program rumah susun ini sangat penting agar ketercapaian target dapat tepat sasaran, yaitu untuk masyarakat penghasilan menengah-bawah.

9 Responses to "EVALUASI KEBIJAKAN dan RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN di KAWASAN PERKOTAAN tahun 2007-2011"

Sangat setuju sekali dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi rumah kumuh dan rumah ilegal. tapi yg perlu dikecewakan kalau rumah susun yang dibuat itu salah sasaran yg semula untuk rakyat menengah-kebawah, lha ternyata malah dijual ke rakyat yg tergolong menengah-keatas, bahkan disewakan.

like this deh. perlu ada evaluasi tuh untk pemerintah.. salah sasaran bung… mubadzir..
masa’ pemerintah mbuatin rumah murah buat orang-orang kaya. yg kaya jadi lebih kaya dunk… ;)

saya mau bertanya:
apa kriteria dan indikator dalam “evaluasi kebijakan dan rencana strategis pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan tahun 2007-2011″?
bentuk teknik evaluasi apa yang cocok untuk “evaluasi kebijakan dan rencana strategis pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan tahun 2007-2011″?

terima kasih

Tema yang menarik. Tp evaluasi yang bagaimna yg perlu dilakukan untk mengatasi kendala yang terjadi?? mngkn dari segi teknis misalnya mengubah posisi dari rusun tersebut dipinggir atau dipusat kota, atau dari segi sosialisasi terhadap masyarakat??

@ prasetyo dan littleboy: pada dasarnya program percepatan pembangunan rusun ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penghasilan menegah-kebawah, namun dalam implementasinya masih terdapat ketidaktepatan sasaran program. penjualan rusunami pada pihak kedua yang ternyata kalangan masyarakat menengah keatas juga ditengarai dilakukan oleh masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka atau karena rendahnya daya beli masyarakat miskin.Oleh karena itu perlu dilakukan adanya evaluasi dalam kebijakan tersebut.evaluasi yang perlu dilakukan seharusnya melibatkan para stakeholder yang terdiri dari pihak pemerintah, pihak swasta (dalam hal ini pengembang) dan pihak masyarakat.

wah,, sepertinya itu memang “gaya orang indonesia”
di makasudkan untuk kesejahteraannya, lha malah dijual untuk keuntungan mereka… oke thx

@ nunik : terima kasih nunik atas pertanyaannya, mungkin bisa kita diskusikan lebih jauh. umumnya evaluasi bertujuan untuk melihat seberapa besar kebijakan program menyelesaikan suatu masalah, namun evaluasi dapat dilakukan selama program dilaksanakan. dalam kebijakan percepatan pembangunan rumah susun di perkotaan pemerintah mencanangkan program pembangunan 1000 tower rumah susun di seluruh Indonesia tahun 2007-2010 (saat ini masih merupakan proses pelaksanaan prorgam), evaluasi dengan pendekatan semu sudah dapat dilakukan dengan membandingkan ketercapaian target tower rumah susun yaitu 1000 unit dengan kondisi saat ini, yaitu 166 unit rusun. dalam hal ini baru sekitar 19 % target pembangunan tercapai.
Dalam dokumen Kebijakan dan Rencana Strategis Pembangunn rumah susun perkotaan tahun 2007-2011 bertujuan untuk memberi arahan kebijakan pembangunan rumah susun bagi kalangan pelaku kebijakan sehingga untuk lebih validnya hasil evaluasi maka dapt dilakukan evaluasi pendekatan keputusan teoritis dengan teknik delphi. namun kriteria dan indikator yang sudah terdapat dalam dokumen Kebijakan dan Rencana Strategis ini masih bersifat kurang terukur karena skala kebijakannya yang cukup luas yaitu di seluruh Indonesia.

@ red : trima kasih atas pertanyaaanyaa. menurut pendapat saya, sebaiknya dikaji lebih jauh mengenai permasalahan dalam pembangunan rusun. semakin mendalami permasalahan maka nantinya dapat dirumuskan sasaran kebijakan yang lebih bersifat teknis dan spesifik. dengan begitu target dan sasaran program akan lebih mudah tercapai.
aspek sosialisasi dan teknis penentuan lokasi pembangunan rusun sangat penting bagi pembangunan rusun itu sendiri. Aspek sosial dapat memberikan tolak ukur mengenai respon masyarakat terhadap pembangunan rumah susun, jika masyarakat kurang berminat untuk tinggal dirumah susun, maka nantinya kebijakan di bidang sosial dapat diarahkan untuk program sosialisasi secara intensif pada masyarakat khususnya kaum ibu agar dapat mengubah ‘mind-set’ negatif dari rumah susun. sekian yg dapat saya sampaikan, mungkin ada crosscheck. maaf bila ada kekurangan dlm penyampaian, trima kasih^-^

mungkin itu semua dimaksudkan untuk memperbaiki sasaran dan tujuan dari pembangunan rumah susun untuk kedepannya, tapi bagaimana untuk kesalahan sasaran sebelumnya, apa perlu dievaluasi juga mungkn menyuruh golongan menengah-keatas yang tinggal di rusun yg lama untuk keluar atau pemerintah harus membangun rusun baru lagi untuk masyrarakat menengah-kebawah??

maaf ni banyak tanya jadinya… ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: